Unsur Pembentuk
Teater
Dalam khasanah teater dewasa ini dapat disimpulkan unsur
utama
teater adalah naskah lakon, sutradara, pemain, dan
penonton. Tanpa
keempat unsur tersebut pertunjukan teater tidak bisa
diwujudkan. Untuk
mendukung unsur pokok tersebut diperlukan unsur tata
artistik yang
memberikan keindahan dan mempertegas makna lakon yang
dipentaskan
3.1 Naskah Lakon
Naskah Lakon pada dasarnya adalah karya sastra dengan
media bahasa
kata. Mementaskan drama berdasarkan naskah drama berarti
memindahkan karya seni dari media bahasa kata ke media
bahasa
pentas. Dalam visualisasi tersebut karya sastra kemudian
berubah
esensinya menjadi karya teater.
Naskah lakon , pada dasarnyamempunyai struktur yang
jelas, yaitu tema, plot, setting, dan tokoh. Akan tetapi, naskah lakon
yang khusus dipersiapkan untuk dipentaskan
mempunyai struktur lain yang spesifik.
3.2 Sutradara
Di Indonesia penanggung jawab proses transformasi naskah
lakon ke bentuk pemanggungan adalah sutradara yang
merupakan
pimpinan utama kerja kolektif sebuah teater. Baik
buruknya pementasan
teater sangat ditentukan oleh kerja sutradara, meskipun
unsur–unsur
lainnya juga berperan tetapi masih berada di bawah
kewenangan
sutradara.
45
Sebagai pimpinan, sutradara selain bertanggung jawab
terhadap
kelangsungan proses terciptanya pementasan juga harus
bertanggung
jawab terhadap masyarakat atau penonton.
3.3
Pemain
Untuk mentransformasikan naskah di atas panggung
dibutuhkan
pemain yang mampu menghidupkan tokoh dalam naskah lakon
menjadi
sosok yang nyata. Pemain adalah alat untuk memeragakan
tokoh. tetapi
bukan sekedar alat yang harus tunduk kepada naskah.
Pemain
mempunyai wewenang membuat refleksi dari naskah melalui
dirinya.
Agar bisa merefleksikan tokoh menjadi sesuatu yang hidup,
pemain
dituntut menguasai aspek-aspek pemeranan yang dilatihkan
secara
khusus, yaitu jasmani (tubuh/fisik), rohani (jiwa/emosi),
dan intelektual.
Memindahkan naskah lakon ke dalam panggung melalui media
pemain
tidak sesederhana mengucapkan kata - kata yang ada dalam
naskah
lakon atau sekedar memperagakan keinginan penulis
melainkan proses
pemindahan mempunyai karekterisasi tersendiri, yaitu
harus
menghidupkan bahasa kata (tulis) menjadi bahasa pentas
(lisan).
3.4 Penonton
Tujuan terakhir suatu pementasan lakon adalah penonton.
Respon penonton atas lakon akan menjadi suatu respons
melingkar,
antara penonton dengan pementasan. Banyak sutradara yang
kurang
memperhatikan penonton dan menganggapnya sebagai kelompok
konsumsi yang bisa menerima begitu saja apa yang
disuguhkan
sehingga jika terjadi suatu kegagalan dalam pementasan
penonton
dianggap sebagai penyebabnya karena mereka tidak mengerti
atau
kurang terdidik untuk memahami sebuah pementasan.
Kelompok penonton pada sebuah pementasan adalah suatu
komposisi organisme kemanusiaan yang peka. Mereka pergi
menonton
karena ingin memperoleh kepuasan, kebutuhan, dan
cita-cita. Alasan
lainnya untuk tertawa, untuk menangis, dan untuk
digetarkan hatinya,
karena terharu akibat dari hasrat ingin menonton.
Penonton
meninggalkan rumah, antri karcis dan membayar biaya masuk
dan lainlain
karena teater adalah dunia ilusi dan imajinasi.
Membebaskan pola
rutin kehidupan selama waktu dibuka hingga ditutupnya
tirai untuk
memuaskan hasrat jiwa khayalannya.
Eksistensi teater tidak mengenal batas kedudukan manusia.
Secara ilmiah, manusia memiliki kekuatan menguasai sikap
dan
tindakannya. Tindakannya pergi ke teater disebabkan oleh
keinginan dan
kebutuhan berhubungan dengan sesama. Sehingga menempuh
jalan
sebagai berikut :
Bertemu
dengan orang lain yang menonton teater. Teater
merupakan suatu lembaga sosial.
Memproyeksikan
diri dengan peranan-peranan yang
melakonkan hidup dan kehidupan di atas pentas secara
khayali. Teater adalah salah satu cara proses interaksi
sosial
Dalam memandang suatu karya seni penonton hendaklah mampu
memelihara adanya suatu objektivitas artistik. Ini bisa
tercapai dengan
menentukan jarak estetik (aestetic distance)
sehubungan dengan karya
seni yang dihayatinya. Pemisahan yang dimaksud, antara
penonton dan
yang ditonton, pada seni teater diusahakan dengan jalan:
Menciptakan
penataan yang tepat atas auditorium dan pentas.
Adanya
batas artistik proscenium sebagai bingkai gambar.
Pentas
yang terang dan auditorium yang gelap.
Semua itu akan membantu kedudukan penonton sehingga
memungkinkan untuk melakukan perenungan.
3.5 Tata Artistik
Tata artistik merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan
dari
teater. Pertunjukan teater menjadi tidak utuh tanpa
adanya tata artistik
yang mendukungnya. Unsur artistik disini meliputi tata
panggung , tata
busana, tata cahaya, tata rias, tata suara, tata musik
yang dapat
membantu pementasan menjadi sempurna sebagai pertunjukan.
Unsurunsur
artistik menjadi lebih berarti apabila sutradara dan
penata artistik
mampu memberi makna kepada bagian-bagian tersebut
sehingga unsurunsur
tersebut tidak hanya sebagai bagian yang menempel atau
mendukung, tetapi lebih dari itu merupakan kesatuan yang
utuh dari
sebuah pementasan.
Tata panggung adalah pengaturan pemandangan di panggung
selama pementasan berlangsung. Tujuannya tidak sekedar
supaya
permainan bisa dilihat penonton tetapi juga menghidupkan
pemeranan
dan suasana panggung.
Tata cahaya atau lampu adalah pengaturan pencahayaan di
daerah sekitar panggung yang fungsinya untuk menghidupkan
permainan
dan dan suasana lakon yang dibawakan, sehingga
menimbulkan
suasana istimewa.
Tata musik adalah pengaturan musik yang mengiringi
pementasan teater yang berguna untuk memberi penekanan
pada
suasana permainan dan mengiringi pergantian babak dan
adegan.
Tata suara adalah pengaturan keluaran suara yang
dihasilkan dari
berbagai macam sumber bunyi seperti; suara aktor, efek
suasana, dan
musik. Tata suara diperlukan untuk menghasilkan harmoni.
Tata rias dan tata busana adalah pengaturan rias dan
busana
yang dikenakan pemain. Gunanya untuk menonjolkan watak
peran yang
dimainkan,
dan bentuk fisik pemain bisa terlihat jelas penonton
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Semoga Bermanfaat